LANZURI.COM: Pengertian Etika Normatif google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Thursday, April 11, 2019

Pengertian Etika Normatif


Apa yang dimaksud dengan Etika Normatif? Kelompok  ilmu pengetahuan mengenai kesusilaan yang lain tidaklah mengandung watak deskriptif, melainkan normatif. Kelompok ini mendasarkan diri pada sifat hakiki kesusilaan bahwa di dalam perilaku serta tanggapan-tanggapan kesusilaanya, manusia menjadikan norma-norma kesusilaan sebagai panutannya.Setiap ilmu pengetahuan, tidak terkecuali juga ilmu pengetahuan deskriptif mengenai kesusilaan yang beraneka ragam, mestinya memperhitungkan kenyataan ini; seharusnya ilmu-ilmu pengetahuan itu memperhatikan hal tersebut ketika melukiskan objeknya.Tetapi ilmu pengetahuan ini tidak lebih sekedar menetapkan faktanya, tanpa membicarakannya lebih lanjut.Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut semuanya tidak ada yang mempertanyakan benar tidaknya, melainkan mengambil kedudukan yang tidak memihak.

Berdasarkan sudut pandang ilmiah, yaitu sudut pandangan seorang penonton, etika menetapkan bahwa manusia memakai norma-norma sebagai panutannya, tetapi tidak memberikan tanggapan mengenai kelayakan ukuran-ukuran kesusilaan.Sah tidaknya norma-norma tetap tidak dipersoalkan; yang diperhatikan hanya berlakunya.

Kiranya sudah jelas, sikap tidak memihak yang diambil oleh seorang penyelidik tidaklah berarti bahwa secara pribadi ia tidak mempunyai pertimbangan kesusilaan. Tidak seorang pun dapat terhindar dari pertimbangan-pertimbangan semacam ini.Dan di samping itu, seorang penyelidik memerlukan keinsyafan tentang baik dan buruk dan dengan demikian merupakan makhluk susila, justru mengingat objek yang diselidikinya. Sesorang manusia yang tidak susila tidak akan mampu memberikan pertimbangan mengenai kesusilaan secara lebih lurus, bisa disebandingkan seorang buta yang memberikan pertimbangan mengenai warna. Seorang yang sama sekali tidak punya rasa seni suara kiranya sukar sekali dapat ditugasi menganalisa sebuah simfoni karya Beethoven. Bahkan seyogyanya seorang ahli etika ketika  melukiskan moral tertentu mempunyai pertalian sekadarnya dengan moral tersebut. Seorang akan sulit sekali menghayati sesuatu, bila ia sama sekali tidak mendasarkan diri atas hal itu.

Itulah sebabnya mengapa kita sering menyaksikan adanya penggambaran yang salah, bila seseorang dari luar lingkungan yang bersangkutan melukiskan gejala kesusilaan tertentu, meskipun ia sangat mahir dan beriktikad baik. Memang dikehendaki agar seorang ahli etika tidak membiarkan penilaian-penilaian pribadinya mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan ilmiahnya, bahkan diisyaratkan agar ia melakukan “epoche” atau menghindari pemberian tanggapan. Tetapi seorang ahli etika dapat juga mengambil sikap lain, dan meninggalkan pendirian yang netral, yaitu pendirian sebagai seorang pegamat.

Dalam hal ini ia bertolak dari pendirian bahwa moral tertentu benar. Artinya, norma-norma kesusilaan tertentu dipandang tidak hanya merupakan fakta, melainkan juga bersifat layak, dan karenanya berlaku sah. Dengan demikian ia telah berpihak, karena memberikan persetujuan kepada moral tertentu. Tetapi berhubung ia hendak bekerja secara ilmiah, maka persetujuan yang telah diberikannya dipakai sekedar sebagai titik tolaknya. Selanjutnya ia merenungkannya, melukiskan, menjelaskan serta memberikan dasar-dasar terhadap moral tertentu ini, yang ia hayati serta ia jadikan pedoman hidupnya, dan melakukan hal-hal lain sejauh yang dimungkinkan. Kiranya jelas, secara demikian akan muncul bentuk etika yang lain dibanding yang disebut di atas.

Pada mulanya perbedaan tersebut belum tentu terlihat.Berdasarkan pendirian yang disebut belakangan tati orang juga mengadakan analisa, melakukan penataan, menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain, dan sebagainya. Namun segera akan tampak perbedaanya, di sini seorang ahli etika tidak hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan ilmiah, melainkan juga pertimbangan-pertimbangan kesusilaan. Umpamanya, ia tidak sekedar mengatakan bahwa dalam lingkungan moral tertentu poligami dilarang, melainkan juga mengatakan bahwa larangan tersebut memang tepat. Mungkin saja ia tidak secara tegas-tegas mengatakan hal itu, namun setiap kali penilaiannya tersebut dapat dibaca dalam apa yang tersirat. Juga hal ini jelas tampak dalam sikap seorang ahli etika yang menolah pendapat-pendapat kesusilaan yang lain daripada pendapat-pendapat yang dipandangnya layak.

Ini menunjukkan bahwa etika dalam arti yang demikian tadi tampil berdasar kewibawaan. Sesungguhnya kewibawaan inibersifat derivatif, yaitu dijabarkan dari moral yang ia gambarkan, namun memang keyakinan yang derivatif itulah  yang ingin dimilikinya. Dengan kata lain etika semacam ini tidak hanya sekedar bersifat deskriptif, melainkan juga bersifat normatif; ia tidak hanya melukiskan apa yang berlaku melainkan mempertahankan berlakunya itu; ia tidak hanya mengatakan; demikianlah keadaannya, melainkan juga demikianlah seharusnya; ia tidak hanya memberitahukan pengetahuan melainkan hendak mewartakan suatu ajaran.

Oleh sebab itu, etika ini sekedar merupakan ilmu pengetahuan mengenai kehidupan praktik, melainkan juga bersifat praktik, karena langsung tertuju pad praktek.Ia bertolak dari kehidupan dan secara demikian sangat erat pertaliannya dengan kehidupan, barangkali lebih dekat dibanding ilmu pengetahuan lain yang mana pun. Inilah yang merupakan daya tariknya, karena tidak sekedr merupakan graue theorie (teori yang samar-samar). Tetapi juga membawa serta bahaya, hawa nafsu, pamrih, prasangka, dan sebagainya lebih mudah mengeruhkannya dibanding yang dapat terjadi pada ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.

Kiranya jelas bahwa etika normative tidak dapat sekedar melukiskan susunan-susunan formal kesusilaan.Ia menunjukkan perilaku manakah yang baik dan perilaku manakah yang buruk, yang demikian ini kadang-kadang disebut ajaran kesusilaan, sedangkan etika deskriptif disebut juga ilmu kesusilaan. Yang pertama senantiasa merupakan etika material.

Mungkin timbul pertanyaan apakah etika normative merupakan ilmu pengetahuan.Pertanyaan ini lebih mencekam lagi karena biasanya etika dibicarakan sebagai bagian filsafat atau teologi, orang dapat mempertanyakan apakah filsafat dan teologi merupakan ilmu pengetahuan.Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada isi yang diberikan kepada pengertian ilmu pengetahuan.Apabila yang dimaksudkan sebagai ilmu pengetahuan ialah ilmu alam dan juga seandainya ilmu sejarah termasuk di dalamnya, maka etika normative bukan merupakan ilmu pengetahuan.Teologi, filsafat dan juga etika normative memperhatikan kenyataan-kenyataan, yang tidak dapat ditangkap dan diversifikasi secara empiric.Namun masih menjadi tanda Tanya apakah kesulitan ini dijadikan keberatan yang tidak dapat diatasi, sehigga pengertian ilmu pengetahuan hanya terbatas meliputi ilmu-ilmu pengetahuan empiric.

Mungkin juga ada pendirian yang lebih luas mengenai ilmu pengetahuan; menurut pendirian ini sesungguhnya ilmu pengetahuan ialah kecenderungan akan kebenaran yang terlatih secara metodik. Ilmu pengetahuan dapat dikatakan ada bila manusia berusaha untuk mengetahui kebenaran dengan segenap tenaga serta sarana yang dipunyainya, serta terlatih dalam menggunakannya, menurut metode-metode yang khusus.Sudah tentu metode yang dipakai harus disesuaikan dengan objeknya. Apabila etika normative mempunyai objek yang berjenis khusus, maka ia harus mengembangkan metode tersendiri. Tetapi ia tetap merupakan ilmu pengetahuan, selama bertolak dari pengalaman, meskipun pengalaman semacam ini berupa pengalaman khusus dan cara berpikir hendak menembus ke dalamnya.

Di dalam telaah-telaah berikut, sebagian besar kita berkecimpung dalam bidang etika deskriptif, meskipun di sana sini dengan sendirinya akan tampak pendirian penulis. Dalam hal ini sikap menghindari pemberian tanggapan dipermudah karena kita membicarakan sesuatu moral tertentu.Dengan demikian kita melukiskan kesusilaan pada umumnya, setidaknya seperti yang dipahamkan orang dalam lingkungan kebudayaan kita dan juga di luarnya.Maka kita tetap berada dalam bidang etika formal serta berada di luar bidang etika material.

Manakala kita memasuki juga bidang etika material, akan jaul lebih sukar untuk tidak memberikan pertimbangan dari sudut pangangan tertentu. Memang dalam bagian pertama yang bersifat fenomenalogik dimungkinkan dan bahkan dperlukan untuk bersikap menghindari pemberian tanggapan, karena yang menjadi masalah di sini ialah sekedar memberikan penggambaran secara tepat.Dalam bagian kedua sikap yang demikian lebih sulit dan bahkan tidak mungkin diambil. Dalam bagian ini ditunjukkan dengan cara bagaimanakah orang telah berusaha untuk memberikan dasar-dasar kebada kesusilaan, dan dengan demikian dalam arti tertentu memberikan penjelasan mengenai kesusilaan.

Nampaklah di sini orang sulit untuk tetap merasa puas dengan menggambarkan belaka.Ketidakpuasan ini dapat beralih menjadi kecaman.Kecaman ini bukan hanya bersumber pada keadaan-keadaan dari bahan yang dibicarakan dan juga tidak semata-mata berdasarkan penggambaran yang diberikan mengenai gejala kesusilaan pada umumnya, melainkan juga dilancarkan dari sudut pandang tertentu. Dengan demikian, pendirian yang bersangkutan akan tampak dengan jelas. Namun sesungguhnya adanya kecaman tersebut sudah mengandaikan bahwa sebelumnya telah terjadi penggambaran secara orjektif mengenai system yang dikecam.

No comments:

Post a Comment