LANZURI.COM: Pengertian Etika Deskriptif google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Wednesday, April 10, 2019

Pengertian Etika Deskriptif


Yang dimaksud dengan etika deskriptif? Sebenarnya tidak hanya terdapat satu ilmu pengetahuan tentang kesusilaan, melainkan banyak macamnya.Pada garis besarnya dapat dibedakan ke dalam dua kelomopik besar. Kelompok yang pertama semata-mata bekerja secara rasional-empirik seperti halnya terjadi pada ilmu pengetahuan lain pada umumnya. Kelompok ini bertolak dari kenyataan adanya gejala-gejala kesusilaan yang dapat dilukiskan serta dijelaskan secara ilmiah seperti halnya gejala-gejala kerohanian yang lain, misalnya seni, hukum dan agama. Dengan demikian timbul etika deskriprif sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kerohanian atau kebudayaan. Yang belakangan ini terbagi lagi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, yang saling berhubungan karena punya kesamaan obyek, namun tidak sepenuhnya persis satu sama lainnya, dan bahkan tidak dapat dipandang sebagai bagian-bagian suatu kebulatan.

Ada banyak ilmu pengetahuan deskriptif mengenai kesusilaan yang diakibatkan oleh kenyataan bahwa bahan-bahan yang ada, dapat dibicarakan dengan berbagai cara ilmiah. Kesusilaan sebagai gejala masyarakat dapat ditinjau secara sosiologik, dan dengan demikian menimbulkan sosiologi kesusilaan.Karena kesusilaan merupakan keseluruhan gejala-gejala kesadaran, maka dapat juga muncul psikologi kesusilaan, dan bahkan karena kesusilaan dapat juga menggambarkan gejala-gejala penyakit, maka kita dapati pula psikopatologi kesusilaan serta psikiatri kesusilaan.

Etika deskriptif mempuyai dua bagian yang sangat penting.Yang pertama ialah sejarah kesusilaan.Bagian ini timbul apabila orang menerapkan metode historik dalam etika deskriptif. Dalam hal ini yang diselidiki ialah pendirian-pendirian mengenai baik dan buruk manakah, norma-norma kesusilaan yang manakah yang pernah berlaku dan cita-cita kesusilaan yang manakah yang dianut oleh bangsa-bangsa tertentu, apakah terjadi penerimaan norma-norma atau cita-cita kesusilaan oleh bangsa atau lingkungan kebudayaan yang satu dari bangsa-bangsa atau lingkungan kebudayaan yang lain, dan seandainya benar bagaimanakah terjadinya dan bagaimana cara mengolahnya. Perubahan-perubahan apakah yang dialami oleh kesusilaan dalam perjalanan waktu, hal-hal apakah yang mempengaruhinya, dan sebagainya.

Sejarawan kesusilaan mendasarkan diri pada aneka ragam dokume. Tujuannya akan lebih cepat tercapai apabila ia mempunyai tulisan-tulisan kesusilaan yang berpengaruh pada suatu masa tertentu. Begitulah hukum-hukum yang banyak terkandung dalam kitab-kitab Exodus sampai Deuteronomium dari Perjanjian lama yang mencerminkan ukuran-ukuran kesusilaan yang dipakai bangsa Yahudi pada kurun waktu tertentu dalam sejarah, dan tulisan-tulisan Homerus menggambarkan cita-cita kesusilaan pada suatu masa tertentu di dalam sejarah Yunani.

Dalam hal ini hendaknya diingat bahwa dokumen-dokumen semacam ini tidak mengatakan segala-galanya mengenai kehidupan kesusilaan senyatanya dari manusia-manusia yang hidup pada kurun-kurun waktu tersebut.Dokumen-dokumen tersebut lebih menggambarka cita-cita dibandingkan kenyataan. Suatu hal yang memang agak sukar memahaminya; kadang-kadang secara tidak terduga orang dapat mengetahui keadaan yang senyatanya berdasarkan atas bahan-bahan keterangan yang lain. Namun adanya kenyataan bahwa setiap kali diperlukan lagi imbauan-imbauan kesusilaan yang keras menunjukkan, secara umum orang tidak menepati norma-norma yang berlaku, meskipun harus juga diingat bahwa para pengkhotbah kesusilaan sering menjadi orang-orang yang kerjanya semata-mata mengeluh mengenai pencemaran kesusilaan dan gemar sekali mengakatakan yang buruk-buruk tentang keadaan kesusilaan pada masa hidup mereka.

Dokumen-dokumen yang juga dipakai oleh para sejarawan, termasuk tulisan-tulisan para ahli etika yang sangat banyak jumlahnya.Tetapi hendaknya diingat sejarah etika belum berarti sejarah kesusilaan, dan bahkan antara etika dan kesusilaan terdapat dua macam perbedaan.Pertama, seperti telah dikatakan, ada jarak pemisah antara yang diajarkan dengan kenyataan yang dihayati.Kedua, petunjuk-petunjuk serta cita-cita kesusilaan diajarkan sering berbeda dengan petunjuk serta cita-cita kesusilaan yang diterima secara umum. Kita melakukan kekeliruan apabila menjumbuhkan etika Aristoteles dengan norma-norma kesusilaan yang berlaku pada masa hidupnya dan dalam lingkungan hidupnya, apabila kita menjumbuhkan antara cita-cita pendidikan Van  Alphen dengan cita-cita yang nyata-nyata dipunyai oleh anak-anak yang hidup semasa dengan dia. Di lain pihak seorang ahli etika tidak pernah terlepas dari masa hidupnya; ia berpengaruh dan pada gilirannya mempengaruhinya, sehingga bagaimanapun sejarah etika penting juga bagi sejarah kesusilaan.

Ilmu pengetahuan kedua yang perlu disebut dalam hubungan ini ialah fenomenologi kesusilaan.Dalam hal ini istilah fenomenologi dipergunakan dalam arti seperti yang dipunyai dalam ilmu pengetahuan agama.Fenomologi agama mencari makna keagamaan dari gejala-gejala keagamaan, mencari logos, susunan batiniah yang mempersatukan gejala-gejala ini dalam keselerasan tersembunyi dan penataan yang mengandung makna.Demikian pula fenomologi kesusilaan mencari makna kesusilaan dari gejala-gejala kesusilaan.Artinya, ilmu pengetahuan ini melukiskan kesusilaan sebagaimana adanya, memperlihatkan ciri-ciri pengenal, bagaimana hubungan yang terdapat antara ciri yang satu dengan yang lain, atau singkatnya mempertanyakan apakah yang merupakan hakekat kesusilaan.Yang dilukiskan dapat berupa kesusilaan tertentu, namun dapat juga berupa moral pada umumnya.
Ciri pokok fenomenologi, menghindari pemberian tanggapan mengenai kebenaran.Ia tidak mempersoalkan apakah seyogyanya manusia dipimpin atau tidak dipimpin oleh petunjuk-petunjuk kesusilaan tertentu. Ilmu pengetahuan ini menempatkan diri dalam kedudukan manusia-manusia yang bersangkutan dalam pemberian tanggapana kesusilaan dan memandang obyeknya dari kedudukan tadi.

Berhubung fenomenologi hanya mencerminkan azas-azas serta susunan umum kesusilaan deskriptif, maka ilmu pengetahuan ini masih tetap bersifat formal. Namun sesungguhnya, fenomenalog akan dapat dengan mudah menggerakkan seorang penyelidik lebih jauh. Dan justru karena tidak mempersoalkan masalah kebenaran, maka didalamnya tetap terdapat masalah-masalah yang bagaimanapun memerlukan penyelesaian.

Masalah-masalah ini bersifat kefilsafatan. Pertanyaan utama ialah apakah kesusilaan harus dipahami dari dirinya sendiri ataukah kesusilaan itu didasarkan atas sesuatu yang lain. Dengan kata lain, apakan kesusilaan mengacu ataukah tidak mengacu kepada sesuatu yang terdapat di atas atau setidak-tidaknya di luar dirinya sendiri. Munculnya pertanyaan mengenai dasar kesusilaan tidaklah mungkin dielakkan.


No comments:

Post a Comment