LANZURI.COM: Pemgertian Pronomina Pesona: Fungsi, Bentuk, dan Makna Pronomina

Friday, April 12, 2019

Pemgertian Pronomina Pesona: Fungsi, Bentuk, dan Makna Pronomina

Pengertian Pronomina Persona
Pronomina persona dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai kelas kata yang menerangkan makna, sapaan dan juga mengacu sebagai kata ganti orang. Keberadaan kata terbagi dalam berbagai kelompok yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Menurut Alwi, dkk. (2010: 256) menyatakan bahwa pronomina dipakai untuk mengacu pada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (Pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (Pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (Pronomina persona ketiga). Diantara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Muslich (2010:78) yang berhubungan dengan pengertian pronomina persona yang selalu mengacu ke orang, dapat menunjuk pada diri sendiri (Pronomina persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (Pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang yang dibicarakan (Pronomina persona ketiga) ketiga nya masih bisa dibedakan kedalam banyak kelompok.

Kata ganti orang atau Pronomina persona merupakan kelas kata yang menerangkan kata benda atau kata ganti, yang biasanya dengan menjelaskan atau membuatnya menjadi lebih spesifik. Menurut Finoza (2009:93) yang menjelaskan tentang pengertian kata ganti atau kata benda mengatakan: “pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain, yang batasan pronomina itu menunjukan bahwa pronomina memang merujuk pada benda sehingga pronomina tidak lain adalah kata benda juga ”.

Keberadaan kata terbagi dalam berbagai kelompok yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Menurut Rohmadi, dkk. (2012: 159) menyatakan bahwa ada macam-macam kata ganti orang atau pronomina persona yang dkelompokkan sebagai berikut : (1) kata ganti orang pertama ialah kata ganti untuk yang berbicara/si pembicara, selanjutnya disebut kata ganti orang pertama; (2) kata ganti orang kedua ialah kata ganti untuk lawan bicara atau orang yang diajak bicara, selanjutnya disebut kata orang kedua; (3) kata orang ketiga ialah untuk orang yang sedang dibicarakan atau menjadi bahan pembicaraan, selanjutnya disebut kata ganti orang ketiga. Baik kata ganti orang pertama, kedua, maupun ketiga masing-masing dikelompokkan atas bentuk tunggal dan jamak.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas mengenai pronomina persona penulis dapat menyimpulkan bahwa pronomina persona merupakan kata yang digunakan sebagai kata ganti yang selalu mengacu kepada nomina lain dan berfungsi sebagai predikat, objek, dan penjelas subjek yang berupa pronomina. Sebagai satu di antara kelas kata dalam tuturan dalam bahasa Indonesia, pronominal persona mempunyai pengaruh dalam penyusunan kalimat. Perubahan struktur pada kalimat sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk pronomina persona.

Fungsi Pronomina Persona

Dalam suatu konteks sintaksis kata ganti dapat berfungsi sebagai subjektif, predikat, dan objektif. Akan tetapi, sebagai sebuah kata, pronomina persona dapat menjadi sebuah kepaduan yang baik dalam sebuah kalimat. Pendapat yang sama dikemukakan, Keraf (1970 : 77) bahwa kata ganti dapat pula berfungsi untuk menjadi kepaduan yang baik dan teratur antar kalimat-kalimat yang membina sebuah alenia. Pada fungsi nya ada dua macam persona ketiga tunggal yaitu : (1) ia, dia, atau –nya  dan (2) beliau. Meskipun demikian ia dan dia dalam banyak hal berfungsi sama. Dalam posisi sebagai subjek, atau didepan verba, ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Akan tetapi, jika berfungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan yang diterangkan, hanya bentuk dia dan –nya yang dapat muncul. Berikut pronomina persona berfungsi sebagai subjektif, predikat dan objektif.



2.Fungsi Atributif 
Fungsi merupakan pewatas dalam frasa nomina yang nomina nya menjadi subjek, predikat dan objek. yaitu suatu kalimat kata ganti orang menempati fungsi subjek. Karena ada kebutuhan untuk memakai pronominal yang tidak merujuk pada insan, terutama dalam penulisan ilmiah, maka penulis juga memakai ia (bukan dia) untuk merujuk pada sesuatu yang tunggal yang telah dinyatakan sebelumnya. Dalam kaitannya pronomina penunjuk mempunyai peranan penting dalam penegasan pronominal persona.
2.Pronomina Penunjuk
Pronomina penunjuk dalam bahasa Indonesia ada tiga macam yaitu (1) pronominal penunjuk umum, (2) pronominal penunujuk tempat (3) pronomia penunjuk ihwal. Pronominal penunjuk ialah ini, itu dan anu. Kata ini mengacu pada acuan yang dekat dengan pembicara/penulis, pada masa yang akan dating, atau informasi yang akan disampaikan. Untuk acuan yang agak jauh dari pembicara/penulis, pada masa lampau, atau pada informasi yang sudah disampaikan, digunakan kata itu.
Contoh : jawaban itu                              rumusan ini
               lamaran itu                                saya ini  
               masalah ini                                mereka itu


Bentuk Pronomina Persona

Sebagian besar pronomina persona bahasa Indonesia memiliki lebih dari dua wujud. Hal ini disebabkan oleh budaya bangsa kita yang sangat memperhatikan hubungan social antar umat manusia. Tata karma dalam kehidupan bermasyarakat kita menuntut adanya aturan yang serasi dan sesuai dengan martabat masing-masing. Sehingga dalam pembentukannya  pronomina persona pertama tunggal bahasa Indonesia adalah saya, aku dan daku. Ketiga bentuk itu adalah bentuk baku, tetapi mempunyai tempat pemakaian yang agak beberda. Saya adalah bentuk yang formal dan umumnya dipakai dalam tulisan atau ujaran resmi. Meskipun demikian, sebagian orang memakai pula bentuk kami dengan arti saya. Hal ini dimaksudkan untuk tidak menonjolkan diri.

Pengacuan Persona

Pengacuan Persona merupakan bagian persona yang harus direalisasikan mengunakan persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga tunggal maupun jamak. Sependapat dengan Sumarlam (2003; 24) bahwa pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang), yang meliputi persona pertama persona pertama, persona kedua, dan ketiga baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk, yakni –ku dan ku-. Bentuk klitika –ku dipakai, antara lain, dalam konstruksi pemilikan dan dalam tulisan dilekatkan pada kata didepanya : kawan        kawanku; sepeda     sepedaku dalam hal ini bentuk utuh aku tidak dipakai : *kawan aku, *sepeda aku. Demikian pula bentuk daku tidak dipakai untuk maksud itu.

Berbeda dengan aku, bentuk saya dapat dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan dibelakang nomina yang dimilikinya: rumah saya, kucing saya, tunangan saya. Pronomina persona saya, aku dan daku, dapat dipakai bersama dengan preposisi. Akan tetapi, tiap preposisi mensyaratkan pronominal tertentu yang dapat dipakai. kelompok demi dapat diikuti oleh daku, tetapi kelompok bagi tidak. Pada contoh berikut, Menurut  Alwi, dkk (2010:258) :
Bentuk terikat ku- sama sekali berbeda pemakaiannya dengan –ku pertama-tama, ku- dilekatkan pada kata yang terletak dibelakangnya. Kedua, kata yang terletak dibelakang ku- adalah verba. Dalam nada puitis, ku- kadang –kadang dipakai sebagai bentuk bebas seperti terlihat pada kalimat dibawah ini.
(a)  Suratmu telah kukirim tadi pagi.
(b)  Hal ini telah kuberitahukan kepada Bu Nyono.
(c)  Ya, mobilnya akan kupakai nanti siang.
(d)  Kini kutahu kau tak setia padaku.

Nomina penyapa dan pengacu sebagai pengganti pronomina persona
Karena keanekaragaman dalam bahasa maupun budaya daerah, pemakai bahasa Indonesia memilki pula bentuk - bentuk lain yang dipakai sebagai penyapa untuk persona kedua dan mengacu untuk persona pertama dan ketiga. Pada dasarnya ada empat faktor yang mempengaruhi hal itu, menurut pendapat, Alwi dkk, (2010:265) yaitu : (1) letak geografis, (2) bahasa daerah, (3) lingkungan social dan (4) budaya bangsa. Budaya bangsa Indonesia yang memperhatikan benar tata karma dalam pergaulan sering membuat orang segan memakai pronominal kedua kamu, engkau, atau anda karena pronominal seperti itu dirasakan kurang hormat.
Oleh karena itu, ada perangkat nomina tertentu yang dipakai sebagai kata penyapa dan pemeran peristiwa ujaran. Pada umumnya penyapa dan pengacu berkaitan dengan istilah kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Kakak, Adik dan Saudara dan nama jabatan dan perangkat seperti lurah, professor, dokter dan kapten. Baik nomina penyapa dan pengacu yang berdasarkan hubungan kekrabatan ataupun yang berdasarkan hubungan jabatan mempunyai bentuk yang kebih pendek, seperti Pak, Bu, Prof, dan Dok. Akan tetapi, dalam konteks kalimat yang lain, apabila nama diri mengikuti nomina itu, kedua macam bentuk itu dapat dipakai. Perhatikan contoh berikut.
a.    1). Baiklah, usul Saudara akan kami pertimbangkan.
2). Bagaimana pendapat Saudara Daryanto?
b.   1). Bapak Daryanto (Pak Daaryanto) sekarang tinggal dimana?
            (Pertanyaan yang diajukan kepada orang yang bernama Daryanto)
      2).Antarkan surat ini kepada bapak. (Permintaan kepada pendengar yang membicarakan persona ketiga).
Jika nomina tidak diikuti oleh nama diri, bentuk yang pendek tidak dipakai. Kalimat berikut yang tidak berterima.
a.    Tadi pagi Pak pergi kemana?
b.    Apa Bu sudah makan?
c.    Apa Dok bersedia member resep tanpa periksa?

Jika bentuk yang pendek akan dipakai tanpa harus berakhir dengan sapaan (vokatif). Seperti pada contoh berikut.
a.    Tadi pagi pergi kemana, Pak?
b.    Apa sudah makan, Bu?
c.    Apa bersedia member resep tanpa periksa, Dok?
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita harus membedakan pronominal persona dari nomina penyapa nomina pengacu. Nomina penyapa dipakai untuk pendengar/pembaca, sedangkan pengacu digunakan untuk mengacu pada orang yang dibicarakan.

Makna Pronomina Persona

Makna adalah penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakai nya sehingga dapat saling mengerti (Djajasudarma 1993:5). Penulis menggolongkan pronomina persona kedalam  makna gramatikal, yaitu makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat fungsi nya sebuah kata dalam kalimat. Pendapat yang sama juga dikemukakan, Sumarlan (2003: 23) “pengucuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikuti nya”.

1.Makna pronomina bersifat ekslusif, inklusif dan netral.
Menurut Alwi dkk, (2010:256) Diantara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu. Ada yang bersifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral.
2.Pronomina penanya
Pronomina penanya adalah pronominal yang dipakai sebagai pemerkah pertanyaan. Dari segi maknanya, yang ditanyakan itu dapat mengenai (a) orang, (b) barang, atau (c) pilihan. Pronomina siapa dipakai jika yang ditanyakan adalah orang atau nama orang; apa bila barang; dan mana bila suatu pilihan tentang orang atau barang. Kata-kata itu mempertanyakan (d) sebab, (e) waktu, (f) tempat, (g) cara dan (h) jumlah atau urutan. Berikut ini adalah kata penanya ssuai dengan maknanya diatas.
a.    Siapa
b.    Apa
c.    Mana
d.    Mengapa, kenapa
e.    Kapan, bila(mana)
f.     Di mana, ke mana, dari mana
g.    Bagaimana
h.    Berapa
Sebagian unsur dasar dan tambahannya mempunyai hubungan sistematis, misalnya, Si + apa, dan di + mana. Akan tetapi, untuk sebagian yang lain hubungan seperti itu tidak ada, semata-mata berdasarkan konvensi.

No comments:

Post a Comment

Youtube