LANZURI.COM: Klasifikasi atau Pengelompokkan Tanah Gambut google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saturday, November 24, 2018

Klasifikasi atau Pengelompokkan Tanah Gambut


Klasifikasi Tanah Gambut,Menurut Sistem Klasifikasi Tanah, tanah gambut dikelompokkan dalam ordo Histosol. Disebut tanah gambut jika memenuhi kriteria sebagai berikut.
1. Jika dalam keadaan jenuh air dengan genangan dalam priode yang lama (sekalipun dengan adanya pengatusan buatan) dan dengan meniadakan akar-akar tanaman hidup, mengandung:
a.  18% bobot karbon organik (setara dengan 30% bahan organik) atau lebih jika mengandung fraksi lempung sebesar 60% atau lebih, atau
b.12% bobot karbon organik (setara dengan 20% bahan organik) atau lebih jika tidak ada kandungan fraksi lempung, atau
c.12% + (lempung dengan kelipatan 0,1 kali) persen bobot karbon organik atau lebih, jika mengandung fraksi lempung <60 atau="" span="">
2.Jika tidak pernah tergenang, kecuali beberapa hari dan mengandung 20% bobot atau lebih karbon organik.

Tanah gambut dibagi atas empat sub-ordo: folist, fibrist, hemist, dan saprist. Umumnya, gambut yang tergolong folist adalah gambut yang berasal dari dataran tinggi, sedangkan kelompok utama lainnya adalah gambut yang berasal dari dataran rendah. Selanjutnya, pengelompokan ke dalam group menggunakan kriteria penciri berupa regim suhu tanah.

Berdasarkan ketebalan lapisan bahan organiknya, gambut dipilah dalam empat kategori yaitu gambut dangkal, tengahan, dalam, dan sangat dalam.
A.Gambut dangkal adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan    organik antara 50 – 100 cm.
B.Gambut tengahan adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan  organik antara 100 - 200 cm.
C.Gambut dalam adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara 200 – 300 cm.
D.Gambut sangat dalam adalah lahan gambut yang mempunyai ketebalan lapisan bahan organik antara >300 cm.

Menurut Polak (1914) dalam Wirjodihardjo (1953) tanah gambut di Indonesia dapat dibedakan menjadi gambut ombrogin, gambut topogin dan gambut pegunungan.
Gambut Ombrogin adalah jenis gambut yang tersebar di dataran rendah rawa lebak  dan pantai yang tersebar luas di Indonesia yang meliputi 16,5 juta hektar dan Sumatera mempunyai luasan sekitar 7,5 juta hektar.  Ketebalan gambut berkisar antara 0,5 hingga 16 meter yang terbentuk dari sisa-sisa vegetasi hutan rawa yang membusuk menjadi bahan yang berwarna kecoklatan. Gambut ini mempunyai sifat jenuh air, bereaksi masam, miskin bahan mineral terutama kapur, air berwarna hitam kecoklatan dan terdapat rhizopoda.  Kadar hara N, P dan K cukup tinggi.

Gambut Topogin adalah gambut yang terbentuk pada depresi topografi rawa terutama di Pulau Jawa. Daerah penyebaran gambur topogin adalah tidak luas dan setempat-setempat, misalnya di Rawa Pening, Rawa Lakbok, Rawa Jatiroto, Deli, Kalimantan Selatan dan Pangandaran.

Gambut Pegunungan adalah gambut yang terbentuk di dataran tinggi pegunungan, dengan kondisi iklim hampir sama dengan iklim daerah sedang dan dengan vegetasi dominan adalah tanaman tingkat rendah.  Di Indonesia gambut Pegunungan dapat dijumpai di dataran tinggi Dieng, puncak Papandayan, dan Pangrango. Vegetasi utama di Gambut Pengunungan tersebut adalah Hydrophyta dan Cyperaceae.

Klasifikasi gambut berdasarkan bahan induk

Klasifikasi gambut berdasarkan bahan induk dapat digolongkan menjadi Gambut Endapan, Gambut Berserat dan Gambut Berkayu.

Gambut Endapan adalah akumulasi bahan organik diperairan dalam sehingga pada umumnya dijumpai dibagian bawah dari suatu profil organik.  Gambut endapan dibentuk dari bahan tanaman yang mudah dihumifikasikan.  Gambut endapan tidak disenangi sebagai tanah karena sifat fisiknya yang tidak menguntungkan sehingga gambut ini tidak diusahakan.  Gambut endapan berasal dari campuran tanaman leli air, rumputan air, hornworth, plankton, dan lainnya.

Gambut Berserat adalah akumulasi bahan organik berbagai sedge, lumut-lumutan, hepnum, reed dan rumpulan lainnya, latifolia dan angustifolia.  Sejumlah gambut berserat sering dijumpai pada rawa dimana gembut endapan berada.  Gambut ini mempunyai sifat fisik yang baik akibat sifat serat dan filamennya.  Gambut berserat dapat juga dijumpai dipermukaan dari akumulasi bahan organik.

Gambut Berkayu adalah gambut dengan bahan penyusun utamanya adalah pohon-pohonan desidius, konifer dan tumbuhan dibawahnya.  Pohon-pohonan banyak tumbuh di daerah rawa, sehingga gambut ini banyak dijumpai di lahan rawa.  Gambut berkayu berwarna coklat atau hitam bila basah, dan warna ini sangat tergantung pada tingkat dekomposisinya.  Gambut berkayu terbentuk dari sisa pohon, semak dan tumbuhan lainnya.

                   Pengertian Dan Tujuan Pengukuran Kinerja

 

No comments:

Post a Comment