LANZURI.COM: Kesantunan Berbahasa google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tuesday, October 30, 2018

Kesantunan Berbahasa


foto by lobikampus


Kesantunan berbahasa



            Kesantunan berbahasa merupakan salah satu kajian dari ilmu pragmatik jika seseorang membahas mengenai kesantunan berbahasa bearti pula membicarakan pragmatik pada bab ini,akan dikaji beberapa acuan teori yang digunakan dalam penelitian diantaranya yaitu (a) prinsip kesantunan berbahasa (b) konteks,dan(c) diskusi

1.      Prinsip kesantunan Berbahasa

Dalam KBBI edisi ketiga (1990:56) dijelaskan yang dimaksud dengan kesantunan adalah kehalusan dan baik budi bahasanya tingkah lakunya. Menurut Muslich bahwa kesantunan,kesopanan santunan,atau etiketadalah tataran,adat,atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat.kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu kesantunan ini biasa disebut “tatakrama”

Kesantunan bersifat relatif di dalam masyarakat ujaran tertentu bisa dikatakan santun di dalam suatu kelompok masyarakat tertentu akan tetapi dikelompok masyarakat lain bisa dikatakan tidak santun menurut Zamzani. (2010: 2) kesantunan merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik atau beretika, kesantunan merupakan fonomena kultural sehingga apa yang dianggap santun oleh suatu kultur tidak demikian halnya dengan kultur ang lain tujuan kesantunan termasuk kesantunan berbahasa adalah membuat suasana berinteraksi tidak mengancam muka dan efektif.

Menurut Rahadi (2005:35) kesantunan mengkaji penggunan bahasa dalam suatu masyarakat bahasa tertentu masyarakat tutur yang dimaksud adalah masyarakat dengan aneka latar belakang situasi sosial dan budaya yang mewadahinya adapun yang dikaji di dalam kesantunan adalah segi maksud dan fungsi tuturan sedangkan . Menurut Fraser (2005: 38-40) menyebutkan bahwa sedikitnya terdapat empat pandangan yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah kesantunan dalam bertutur. (1) Pandngan kesantunan yang berkaitan dengan norma-norma sosial dalam pandangan ini kesantunan dalam bertutur ditentukan berdasrkan norma-norma sosial dn kultural yang ada dan berlaku di dalam masyarakat bahasa itu santun dalam bertutur ini disejajarkan dengan etiket berbahasa. (2) Pandngan yang meliht kesantunan sebagai sebuah maksim percakapan dan sebagai sebuah upaya penyelamatan. Pandangan kesantunan sebagai maksim percakapan menganggap prinsip kesantunan. (3) Pandngan ini melihat kesantunan sebagai tindakan untuk memenuhi persyaratan terpenuhinya sebuah kontrak percakapan, bertindak santun itu sejajar dengan bertutur yang penuh pertimbangan etiket berbahasa.(4)Pandangan kesantunan yang keempat berkaitan dengan adanya sosiolinguistik dalam pandangan ini, kesantunan dipandang sebagai sebuah indeks sosial,indeks sosial terdapat dalam dalam bentuk referensi sosial dan gaya bicara.

 Chaer  berpendapat (2010: 10) secara singkat dan umum ada tiga kaidah yang harus dipatuhi agar tuturan kita terdengar santun atau lawan tutur kita. Ketiga kaidah ini adalah (1)formalitas (2)ketidaktegasan dan (3) kesamaan atau kesekawanaan Kesantunan berbahasa tercermin dalam tataran berkomunikasi lewat tanda verbal atau tataran berbahasa ketika berkomunikasi kita tunduk pada norma-norma budaya tidak hanya sekedar meyampaikan ide yang kita pikirkan tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyrakat tempat hidup dan dipergunakannya suatu bahasa dalam berkomunikasi apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya. Kesantunan berbahasa dapat dilakukan dengan cara pelaku tutur memenuhi prinsip sopan santun berbahasa yang belaku di masyarakat pemakai bahasa itu.

Wijina (1996:55) mengatakan bahwa sebagai retorika pragmatik membutuhkan prinsip kesopanan kesopan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan yakni diri sendiri dan orang lain dimana diri sendiri adalah penutur dan orang lain adalah lawan tutur, dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur,komunikasi yang terjadi perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip kesantunan prinsip kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Leech (1993: 206-207) yaitu sebagai berikut. (1)Maksim kebijaksanaan Rahadi (2005: 60) mengungkapkan gagasan dasar dalam maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur oarang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Wijana (1996:56) menambahkan bahwa semakin panjang tuturan seseorang semakin besar pula keinginan orang itu untuk bersikap sopan kepada lawan bicaranya demikian pula tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lazimnya lebih sopan dibandingkan dengan tuturan yang dituturkan secara langsung. (2)Maksim kedermawanan Menurut Leech (1993: 209) maksud dari maksim kedermawanan ini adalah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin. Rahardi (2005: 61) mengatakan bahwa dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati dimana para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain.penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain

Seananda dari beberapa pendapat ahli diatas dapat ditegaskan bahwa kesantunan berbahasa ialah emua orang harus berbahasa secara santun.Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan saat menggunakan bahasa juga harus memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa baik kaidah linguistik maupun kaidah kesantunan agar tujuan berkomunikasi dapat tercapai. Kaidah berbahasa secara linguistik yang dimaksud antara lain digunakannya kaidah bunyi, bentuk kata, struktur kalimat, tata makna secara benar agar komunikasi berjalan lancar. Setidaknya, jika komunikasi secara tertib menggunakan kaidah linguistik, mitra tutur akan mudah memahami informasi yang disampaikan oleh penutur.

Kesantunan berbahasa seseorang dapat diukur dengan beberapa jenis skala kesantunan.Chaer (2010: 63) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan skala kesantunan adalah peringkat kesantunan mulai dari yang tidak santun sampai dengan yang paling santun. Rahadi (2005: 66-67) menyebutkan bahwa sedikitnya terdapat tiga macam skala pengukur peringkat kesantunan yang sampai saat ini banyak digunakan sebagai dasar acuan dalam kesantunan. Dalam model kesantunan Leech setiap maksimum interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan.Rahadi (2005:66) menyatakan bahwa skala kesantunan Leech dibagi lagi. Skala kerugian dan keuntungan menunjukkan kepada besar kecilnya kerugian dan keuntugan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan semakin tuturan tersebut merugikan diri penutur akan semakin dianggap santunlah tuturan itu.demikian sebaliknya semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur akan semakin dianggap tidak santunlah tuturan itu (Rahardi,2005:67) Skala pilihan menunjukkan kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan si penutur kepada si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur semakin pertuturan itu memunggkinkn penutur atau mitra tutur menentukan pilihan yang banyak dan lelusa akan dianggap  semakin santunlah tuturan itu. Sebaliknya apabila penutur itu sama sekali tidak memberikan kemungkinan memilih bagi si penutur dari mitra tutur tuturan tersebut dianggap tidak santun (Rahadi, 2005: 67)  Skala tidak langsungan menunjukkan kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin tidak santunlah tuturan itu demikian sebaliknya semakin tidak langsung maksud sebuah tuturan akan dianggap semakin santunlah tuturan itu (Rahardi,2006:67) Skala keotoritasan menunjukkan kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam penutur semakin Juah jarak peringkat sosial antara penutur dan dengan mitra tutur,tuturan yang digunakan akan cenderung menjadi semakin santun sebaliknya semakin dekat jarak peringkat status sosial di antara keduanya akan cenderung berkuranglah peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur itu (Rahardi,2005:67)

Kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan tuturan dan di dalam hal ini menurut pendapat si lawan tutur bahwa si penutur tidak melampaui hak-haknya atau tidak mengingkari dalam memenuhi kewajibannya sedangkan menurut Brown dan Levinso (1979:6)mengemukakan teori kesantunan berbahasa itu berkisar atas nosi muka. Robin Lakoff(1973;72) mengatakan kalau tuturan kita ingin terdengar santun ditelingan pendengar atau lawan tutur kita, ada tiga buah kaidah yang harus kita patuhi,ketiga buah kaidah kesantunan itu adalah ketidak tegasan, kesantunan, dan persamaan atau kesekawanan, ketiga kaidah itu apabila dijabarkan maka yang pertama kualitas berarti jangan memaksa atau angkuh yang kedua ketiktegasaan berarti buatlah sedemikian rupa sehingga lawan tutur dapat menentukan pilihan dan yang ketiga persamaan atau kesekawanan,berarti bertindaklah seolah-olah anda dan lawan tutur anda menjadi sama. Fraser(1978) dalam Gunarwan (1994) membahas kesantunan berbahasa bukan atas dasar kaidah –kaidah melainkan atas dasar strategi. Fraser (1978)kesantunan adalah properti yang diasosiasikan dengan tuturan dan didalam hal ini menurut pendapat si lawan tutur, bahwa si penutur tidak melampui hak-haknya atau tidak mengingkari dalam memenuhi kewajibannya sedangkan penghormatan adalah bagian dari aktifitas yang berfungsi sebagai sarana simbolis untuk menyatakan pengharrgaan secara regular.menurut Brown dan Levinso (1979) mengatakan kesantunan berbahasa itu berkisar atas nosi muka semua oraqng yang rasional punya muka dalam arti kiasan tertentu. 

referensi

Nababan, Darwin 2012. “Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia

Rahardi,kunjana 2008, Pragmatik : kesantunan imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta:Erlangga.
Zamzani. 2007. Kajian Sosiopragmatik. Yogyakarta: Cipta Pustaka.
Wijana, I Dewa. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.
 


No comments:

Post a Comment