LANZURI.COM: HAKIKAT SASTRA DAERAH google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Friday, October 12, 2018

HAKIKAT SASTRA DAERAH


Hakikat sastra daerah
Sastra daerah, begitu kata itu dipadukan tampak jelas sebuah susunan kata yang antik dan bernilai seni. Ketika mendengar sastra derah, setiap orang akan berfikir bahwa sastra daerah merupakan jenis sastra yang ditulis dalam bahasa daerah. Hal itu tidaklah salah. Ini sejalan dengan pendapat Zaidan, dkk yang mengatakan bahwa sastra daerah adalah gendre sastra yang ditulis dalam bahasa daerah bertema universal (dalam Didipu, 2010: 1).
Sastra daerah memiliki kedudukan yang sangat penting ditengah masyarakat. Hal ini dikarenakan sastra daerah dapat menjadi wahana pembelajaran kita untuk memahami masyarakat dan budayanya. Disini sangat jelas terlihat bahwa sastra tidak akan perna bisa dilepaskan dari konteks kebudayaan. Menurut Tuloli (dalam Didipu, 2010: 7) sastra derah mempunyai kedudukan sebagai berikut.
1. Sastra daerah adalah ciptaan masyarakat masa lampau atau mendahului penciptaan sastra Indonesia modern.
2. Sastra daerah dapat dimasukkan dalam salah satu aspek budaya Indonesia yang perlu digali untuk memperkaya budaya nasional.
3. Sastra daerah melekat pada jiwa , rohani, kepercayaan dan adat istiadat masyarakat suatu bangsa dan yang mereka pakai untuk menyampaikan nillai-nilai luhur bagi generasi muda.
4. Sastra daerah mempunyai kedudukan yang strategis dan kerangka pembangunan sumber daya manusia, yaitu untuk memperkuat kepribadiaan keindonesiaan yang bhineka tunggal ika.
Sastra daerah lebih umum dikenal dengan sastra lisan. Hal ini dikarenakan sastra daerah merupakan jenis sastra yang kebanyakan disebarkan dari mulut ke mulut. Sejalan dengan apa yang dikatak Endraswara bahwa sastra lisan adalah karya yang disebarka dari mulut kemulut secara turun temurun (2008: 151). Dalam daerah Bolaang Mongondow dikenal dengan istilah monutuy (bertutur). Disamping kedudukan yang telah dijelaskan sebelumnya, sastra daerah juga memiliki beberapa fungsi. Adapun Hutomo (dalam Didipu, 2010: 8) mendeskripsikan fungsi sastra lisan (sastra daerah) sebagai berikut ;
1. Berfungsi sebagai sisitem proyeksi.
2. Berfungsi untuk pengesahan budaya.
3. Berfungsi sebagai alat berlakunya norma-norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial.
4. Berfungsi sebagai alat pendidik anak.
5. Berfungsi sebagai alat untuk memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat.
6. Berfungsi sebagai jalan yang diberikan masyarakat agar ia dapat mencela orang lain.
7. Berfungsi sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat.

No comments:

Post a Comment