LANZURI.COM: FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sunday, October 14, 2018

FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH

Ada dua faktor faktor internal dan eksternal
  • Faktor internal merupakan faktor yang datangnya berasal dari diri anak itu sendiri, seperti anak yang malas berangkat sekolah karena tidak memiliki minat dalam pendidikan. Hal ini karena faktor lingkungan yang mempengaruhi anak tersebut, misalnya saja karena malas belajar karena kebanyakan main game dan menonton tv, desakan pergaulan, pola pikir anak yang menganggap pendidikan tidak penting kemudian rasa minder karena anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan kesenjangan ekonomi kemudian keadaan lingkungan sperti keluarganya yang kurang memotivasi anak untuk sekolah yang menjadi penyebab anak enggan ke sekolah.
  • Faktor eksternal yang pertama dan merupakan faktor paling besar pengaruhnya adalah faktor ekonomi. Di Indonesia masih banyak masyarakat yang perekonomianya menegah ke bawah, tentu saja hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemeritah untuk menuntaskan kemiskinan. Kemiskinan bisa dikatakan bagaikan tebing yang menghambat untuk maju dan sulit mobilisasi. Biaya pendidikan yang cukup mahal dirasakan tidak mampu untuk mereka menyekolahkan anak-anaknya, berbagai bantuan beasiswa seperti BOS dan BSM pun belum cukup membantu. Hasilnya banyak orang tua yang menyuruh anaknya untuk mencari nafkah membantu mereka, bahkan tidak sedikit anak yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan anak yang sudah menikmati penghasilanya biasanya sudah tidak memperdulikan pendidikan. Wajib belajar 9 tahun yang digagas pemerintah sungguh tidak ada artinya bagi sebagian kalangan masyarakat. Biaya sekolah yang belum bisa gratis, ditambah lagi harus membayar penunjang-penunjang sekolah yang lain, misalnya buku pelajaran. Buku pelajaran di Indonesia bisa dikatakan mahal, karena harus melalui proses distribusi yang panjang serta pajak yang tinggi. Di Thailand, Singapura dan Malaysia sudah menerapkan fasilitas pemberian buku gratis sampai ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Selain buku pelajaran masih ada seragam, alat tulis dan tentunya uang saku dan transport yang harus ditanggung untuk menyekolahkan anaknya. Selain itu dalam pendidikan juga dikenal budaya kapitalis, siapa yang menyumbang dana terbesar maka kesempatan masuk terbuka lebar, hal ini biasanya terjadi di perguruan tinggi sehingga mayarakat yang perekonomianya lemah tidak bisa bersaing.  

Yang menjadi faktor eksternal selanjutnya adalah sedikitnya perhatian orang tua. Anak merupakan titipan dari Yang Maha Kuasa, dan orang tua wajib untuk membimbingnya. Di zaman ini banyak orang tua yang lebih sibuk dalam pekerjaanya daripada mengurusi anak. Alasan ekonomi yang melandasi kesibukan orang tua yang menyebabkan kurangnya perhatian kepada anak, tentu saja akan berpengaruh pada proses kegiatan belajar dari anak. Anak yang kurang perhatian dari orang tua akan cenderung nakal di sekolah, sering membolos, sering menyepelekan tugas dan pekerjaan rumah yang dikasih guru, masuk pergaulan bebas, terlibat tawuran. Kemudian broken home juga menjadi salah satu factor yang mempengaruhi anak menjadi nakal di sekolah. Dalam keadaan tersebut anak sangat riskan mengalami putus sekolah.
 Kemudian faktor ketiga adalah pemaksaan hak oleh orang tua. Pendidikan merupakan kewajiban dari orang tua, namun kadang ada orang tua yang mengatur pendidikan yang dipilih dari anaknya dan sering bersifat memaksa. Pendidikan yang dipilih orang tua selalu dianggap terbaik untuk mereka, walaupun keinginan, minat dan bakat, dan kemampuan dari si anak tidak sesuai. Anak yang terpaksa menuruti pendidikan dari orang tuanya yang tidak sesuai dengan keinginanya akan berpengaruh pada psikologisnya. Dalam belajar anak tersebut akan cenderung bertele-tele dan asal-asalan dalam menimba ilmu di sekolah, kemudian mengakibatkan nilai dari anak tersebut jelek dan berujung pada putus sekolah.
Faktor yang keempat adalah kurangya prasarana dan fasilitas penunjang pendidikan. Sering kita jumpai dalam media massa pemberitaan tentang anak-anak yang bersekolah di bawah jembatan, tidak adanya transportasi untuk pergi ke sekolah sampai ada yang rela berjalan jauh melewati hutan  hanya demi mengenyam sebuah pendidikan. Dalam pedesaan atau daerah terpencil belum semua anak bisa menikmati pendidikan di sekolah, para pendidik, transportasi dan gedung sekolah yang memadai dan yang dibutukan pun belum bisa dipenuhi oleh pemerintah untuk mereka. Karena lingkungan atau tempatnya yang sulit dijangkau sehingga masih banyak dari mereka yang belum menyentuh pendidikan formal. Dalam pembelajaran yang efektif diperlukan fasilitas-fasilitas penunjang yang memadai. Fasilitas-fasilitas tersebut berupa alat tulis, buku pelajaran, serta perangkat-perangkat pendukung pembelajaran lainya yang memadai. Kurangnya fasilitas penunjang tersebut akan mengakibatkan minat anak untuk belajar turum, sehingga berpotensi untuk putus sekolah.
Faktor selanjutnya adalah pola pikir masyarakat. Masyarakat yang tradisional atau masyarakat yang hidup dipedesaan mempunyai pola pikir yang mengaggap pendidikan merupakan hal yang tidak penting, mereka berpikir buat apa sekolah tinggi tapi kalau hanya menjadi pengangguran atau ujung-ujungnya hanya berladang membantu kedua orang tuanya atau menangkap ikan dilaut, bisa juga dikatakan lha wong sama-sama hasilnya bekerja mengapa harus sekolah. Mereka berpikir bahwa pendidikan di sekolah hanya membuang-buang waktu, uang dan termasuk kegiatan yang tidak berguna serta tanpa pendidikan pun pasti bisa hidup layak. Ada juga sebagian masyarakat yang memandang perempuan tidak berhak sekolah, karena kaum perempuan hanya burujung menjadi ibu rumah tangga. Bahkan ada sebagian masyarakat pedesaan yang memilih menikahkan anaknya di usia muda, sehingga kedudukan pendidikan dalam kehidupanya hanya sebagai pelengkap. Latar belakang pendidikan orang tua pun mempengaruhi pola pikirnya, misal orang tua yang hanya lulusan Sekolah Dasar pasti cara berpikirnya untuk menyekolahkan anaknya berbeda dengan orang tua yang berpendidikan tinggi. Mereka menyekolahkan anaknya hanya terkesan asal-asalan yang penting si anak bisa sekolah dan tanpa memberikan motivasi, hal ini juga mempengaruhi minat anak untuk sekolah sehingga berakibat putus sekolah.
Faktor yang terakhir adalah kelainan fisik maupun mental. Angka putus sekolah dikarenakan faktor ini tidak sebanyak faktor-faktor lain, karena sudah adanya sekolah yang dikhususkan untuk anak kelainan fisik maupun mental yaitu Sekolah Luar Biasa. Namun jika menengok ke lapangan masih ada anak yang putus sekolah atau tidak bisa bersekolah dikarenakan fakor ini.

No comments:

Post a Comment