LANZURI.COM: MAKALAH KEDISIPLINAN BELAJAR SEBAGAI UPAYA MUTLAK UNTUK MENGHADIRKAN MANUSIA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Friday, November 21, 2014

MAKALAH KEDISIPLINAN BELAJAR SEBAGAI UPAYA MUTLAK UNTUK MENGHADIRKAN MANUSIA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

lansung saja gan dari pada basa-basi...mending lansung ke isi hehe......


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Menyongsong era persaingan dunia yang semakin tajam, bangsa kita dituntut untuk dapat mencapai keunggulan menuju tingkat produktivitas nasional yang tinggi. Agar dapat memenangkan kompetisi tersebut, kita harus berupaya menghadirkan peserta didik untuk menguasai berbagai bidang IPTEK dan keterampilan serta keahlia profesional yang dibutuhkan untuk memacu peningkatan nilai tambah berbagai sector industry dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Faktor yang menentukan keberhasialan suatu bangsa bukan kekayaan alam yang dipunyainya, melainkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Perkembangan yang terjadi setelah akhir perang dunia kedua yang membuat kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu kutub pertumbuhan ekonomi duniamerupakan bukti nyata. Negara-negara yang kuat dalam kualitas sumber daya manusianya muncul sebagai negara unggul meskipun mungkin hanya memiliki sumber daya alam yang sangat terbatas. Kebijaksanaan negara-negara tersebut ialah dengan mengembangkan  sumber daya manusia yang sanggup belajar dari kenyataan, memiliki dedikasi dan disiplin yang tinggi, mampu menyempurnakan pola perkembangan negara-negara maju sebelumnya,dan pada akhirnya melahirkan strategi persaingan yang unggul.

baca juga  MODAL IDEAL SAHAM UNTUK MAHASISWA
                 Makanan Berlemak Yang sehat untuk tubuh


B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas sebagai berikut :
1.      Bagaimana peranan pembelajaran dalam pembinaan disiplin ?
2.      Apa saja faktor penunjang dalam mewujudkan disiplin belajar siswa ?
3.      Bagaimana strategi dan langkah-langkah dalam mewujudkan kedisiplinan belajar siswa ?
C.       Tujuan
Adapun tujuan yang ingin penulis sampaikan ialah :
1.         Dapat mengetahui peranan pembelajaran dalam pembinaan disiplin
2.         Dapat mengetahui faktor-faktor penunjang dalam mewujudkan disiplin belajar siswa
3.         Dapat mengetahui strategi dan langkah-langkah dalam mewujudkan kedisiplinan belajar siswa






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Peranan Pembelajaran dalam Pembinaan Disiplin
Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan (Soedijarto; 1998 : 51). Diantara disiplin  yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah disiplin diri, disiplin  belajar, disiplin mengajar, atau disiplin kerja. Seseorang dikatakan memiliki disiplin diri yang tinggi jika dapat mengendalikan dirinya sendiri (Soedijarto; 1998 : 52).
Pembinaan disiplin mengajar pada dasarnya adalah pembinaan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Pendekatan yang digunakan tidak selalu realistis, tetapi memerlukan keakraban emosional yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik. Kemampuan menghargai pendapat orang lain dan tanggap dengan tuntutan yang sedang berlansung merupakan bukti kecerdasan emosional (Golemen Daniel; 1997)
Penegakan disiplin perlu dilakukan secara proporsional sehingga dapat dikembangkan suasana kompetitif yang sehat. Disiplin tidak dilakukan atas rekayasa yang tidak etis karena akan mengakibatkan hasil penilaian terharhadap anak didik yang rajin, pandai, dan disiplin. Dengan demikian, tidak ada intervensi kewenangan dari luar yang tidak proporsional dan kompetitif tersebut. Metode reward and punishment harus dapat meniciptakan kondisi sisten yang objektif sehingga peserta didik yang disiplin dan pandai harus lebih diuntungkan dari anak didik yang melanggar tetapi kuat dibidang finansialmaupun pengaruh.

Peran sekolah dalam mengimplementasikan dan mengaktualisasikan nilai dan disiplin dalam praktik sosial dikalangan peserta didik sangat besar. Lingkungan sekolah yang kondusif diperlukan sehingga anak tidak hanya menerima pelajaran, tetapi suasana disiplin juga perlu ditumbuhkembangkan sehingga mendarah daging dalam diri peserta didik. Suatu indikator disiplin dapat terlihat dari keteraturan, ketertiban, dan kepatuhan dalam melaksanakan semua ketentuan atau norma yang berlaku. Untuk mencintai negara dan memiliki kebanggaan yang dapat dipertanggungjawabkan diperlikan keikhlasan atau kerelaan dalam pengorbanan demi pengabdiannya. Disiplin tidak begitu mudah terbentuk karena melalui proses yang sistemik dan berkelanjutan sejak anak masih kecil hingga dewasa. Dalam hal ini, pendidikan memiliki fungsi yang sangat strategis.
Menurut Coleman (1981). Beberapa hal yang diperlukan untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran disekolah. (a) Suasana tertib dan disiplin, artinya para siswa dan guru dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran, bukan pada kegiatan lain untuk mempertahankan hidupnya. (b) Suasana sekolah yang menekankan pentingnya belajar dan imbalan terhadap kemajuan belajar . (c) dukungan orang tua terhadap usaha sekolah untuk memelihara disiplin dan meningkatkan kemajuan belajar.
Dukungan fasilitas serba mewah dan modern tidak disebutkan oleh Coleman sebagai salah satu persyaratan utama keberhasilan kegiatan pembelajaran karena beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa hal tersebut memang tidak mutlak diperlukan. Banyak kejadian membuktikan kalau sisiwa bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas yang serba mewah menukjukan prestasi yang baik sesungguhnya itu tidak hanya disebabkan dukungan fasilitas semata, tetapi lebih disebabkan berbagai factor lain yang ada di luar hal tersebut.
Neburut Diana Ravicth (1982), Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki suasana yang teratur, disiplin yang dianggap pantas dan efektif bagi siswa, pelaksanaan administratif yang profesional, penugasan pekerjaan rumah yang teratur, tingkat kealfaan siswa yang rendah, kerja sama, dan peran aktif orang tua. Sejalan dengan hal tersebut, dalam studi yang pernah dilakukan oleh Armbruster (1977), HortonLeslie (1981), menunjukan bahwa fasilitas pendidikan yang serba super, seperti peralatan sekolah yang hebat, staf pengajar yang berpendidikan tinggi, dan besarnya biaya sekolah setiap siswa, ternyata bukanlah jaminan bagi terciptanya siswa yang pintar. Dalam membelajarkan siswa guru diupayakan untuk mengembangkan serta mengidentifiksi potensi yang dimilik siswa seoptimal mungkin. Karena dalam diri siswa terdapat potensi dasar yang harus dikembangkan, potensi dasar dimaksud antara lain (a) potensi jasmani, (b) potensi pikiran, (c) potensi rasa, (d) potensi karsa, (e) potensi cipta, (f) potensi karya, dan (g) potensi budi nurani. Semua potensi tersebut perluu dioptimalkan.
Guru dalam meningkatkan mutu belajar siswa dituntut mempunyai persiapan mengajar yang baik, disiplin terhadap waktu mengajar, merasa bersalah kalau meninggalkan jam pelajaran, serta mampu menerapkan pujian atau penghargaan dan hukuman yang sifatnya edukatif. Jadi, dalam pelaksanaannya yang diandalkan adalah bagaimana proses suatu lulusan tu dihasilkan. Kalau prosesnya baik, peluang untuk menghasilkan lulusan yang bermutu atau sumber daya manusia yang berkualitas semakin besar. Dalam era reformasi sekaligus memasuki era globalisasi diharapkan lembaga pendidikan mampu menghasilkan keluaran yang memiliki keunggulan dalam hal (a) keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, (b) nasionalisme dan patriotism yang tinggi, (c) wawasan IPTEK yang mendalam dan luas, (d) motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan, (e) kepekaan sosial dan kepemimpinan, dan (f) disiplin yang tinggi ditunjang oleh kondisi fisik yang prima.

B.       Faktor Penunjang dalam Mewujudkan Disiplin Belajar Siswa
1.    Faktor Internal
Berbagai faktor yang muncul dari dalam diri siswa yang bersangkutan, berupa :
a)    Kesadaran akan hakikat belajar (etos kerja yang tinggi);
b)   Pemahamannya dalam menyikapi hidup dimasa datang yang penuh tantangan dan persaingan;
c)    Kebutuhan akan pentingnya penguasaan IPTEK; dan
d)   Mentalitas yang tidak menyerah , keuletan, dan ketekunan.

baca juga Teori Behaviorisme
                RPP IPS KELAS VII

2.    Faktor Eksternal
a)    Peranan guru. Hal ini sangat tergantung pada kepuasan kerja guru dengan indikator berikut :
1)   Kesempatan untuk maju;
2)   Penghasilan dan jaminan hidup;
3)   Hubungan sosial;
4)   Kerja sama;
5)   Kondisi fisik tempat kerja;
6)   Status kerja dalam pandangan masyarakat;
7)   Peraturan dalam kerja;
8)   Perbandingan antara pekerjaan dan kemampuan; dan
9)   Kepemimpinan.
b)   Pengaruh lingkungan dimana siswa tersebut berada.
1)   Lingkungan kota –desa
2)   Lingkungan masyarakat terpelajar – tidak terpelajar
c)    Kondisi rumah tangga anak itu sendiri.
1)   Harmonis –tidak harmonis.
2)   Kaya – miskin.
3)   Berpendidikan – tidak berpendidikan.
4)   Pekerja – tidak bekerja.

C.       Strategi dan Langkah-langkah dalam Mewujudkan Kedisiplinan Belajar Siswa
Sebagaimana telah dipaparkan pada bahaasan terdahulu, dalam peningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan merupakan aspek sentral dan mempunyai peranan yang sangat besar dalam peningkatan disiplin belajar siswa. Dengan demikian, strategi pokok dalam peningkatan disiplin belajar siswa akan ditempuh melalui jalur pendidikan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dituangkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa tanggung jawab pelaksanaan pendidikan berada pada pendidikan dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam meningkatkan disiplin belajar siswa untuk menjadi manusia Indonesia yang berkualitas sebagai berikut :
1.    Jalur pendidikan keluarga ditempuh dengan langkah-langkah berikut :
a)    Mengupayakan terciptanya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
b)   Meningkatkan kehidupan masyarakat.
c)    Memanfaaatkan media massa dengan menampilkan rubrik atau acara tentang pendidikan keluarga, misalnya tentang kesehatan, perkembangan jiwa anak dan remaja, dsb.
2.         Jalur pendidikan masyarakat ditempuh dengan langkah-langkah berikut :
a)        Mengintegrasikan kebudayaan disiplin dalam pelaksanaan program-program pendidikan masyarakat yang sudah berjalan , antara lain :
1)   Pemberantasan tiga buta;
2)   Pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar melalui pelaksanaan kelompok belajar paket A dan B; dan
3)   Peningkatan kualitas dan kuantitas.
b)        Meningkatkan minat dan kegemaran membaca masyarakat.
c)        Meningkatkan semangat kebangsaan.
d)       Melaksanakan kampanye peningkatan disiplin belajar melalui berbagai pendekatan (ceramah agama, ceramah pendidikan, penyuluhan, dan sebagainya).
e)        Mendorong inisiatif masyarakat untu mengampanyekan perlunya peningkatan budaya bersih , dan budaya tertib, misalnya melalui :
1)   Kebiasaan antri;
2)   Lomba kebersihan kampong;
3)   Tertib lalu lintas, dan sebagaimnya.
3.         Jalur pendidikan sekolah dapat ditempuh dengan kegiatan berikut :
a)        Meningkatkan pelaksanaan tata tertib sekolah.
b)        Penyelengaraan lomba-lomba yang meliputi :
1)   Lomba 5K;
2)   Lomba yayasan wiyata mandala;
3)   Lomba UKS;
4)   Lomba mengarang tentang disiplin belajar;
5)   Lomba pengibaran bendera;
6)   Peningkatan pelaksanaan ekstra aktivitas;
7)   Peningkatan KBM; dan
8)   Peningkatan supervise sekolah.
c)        Pengawasan yang insentif oleh kepala sekolah.
d)       Pembudayaan apel pagi (Senin) atau sore (Sabtu).
e)        Pembudayaan disiplin mengajar guru.






BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Melalui berbagai macam kegiatan pendidikan sebagaimana yang telah dipaparkan dimungkinkan terwujudnya disiplin belajar siswa sehingga pada akhirnya kondisi yang sesuai dengan tuntutan era globalisasi dapat terwujud. Upaya pengembangan disiplin belajar melalui lingkungan pendidikan, khususnya lingkungan sekolah, harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi sesuai dengan hakikat dan fungsi lembaga pendidikan tersebut. Selain itu, kita harus mengenali terlebih dahulu hakikat disiplin jika dipandang dari sudut kependidikan. Fungsi pendidikan yang memberikan bimbingan dan konseling harus selalu memperhatikan batas-batas kewenangannya sehingga tidak melanggar batas-batas kebebasan siswa mengambil keputusan. Jangan sampai keliru dalam pengembangan kedisiplinan, malah menghasilkan manusia-manusia robot.

B.       Saran
Dalam makalah ini penyusun memberi saran kepada pembaca bahwa untuk dapat bersaing di era globalisasi kita harus mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mewujudkan hal itu dimulai dari disiplin belajar. Semoga bahan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat direalisasikan kemasyarakat luas maupun peserta didik.








 


DAFTAR PUSTAKA


Rohmadi, M. , dkk. (2013). Biografi Samion H. AR. Surakarta : Yuma Pustaka.












Rounded Rectangle: 10
 

No comments:

Post a Comment