LANZURI.COM: ANALISIS NOVEL MELALUI SOSIOLOGI SASTRA google.com, pub-8290688651244715, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Friday, November 22, 2013

ANALISIS NOVEL MELALUI SOSIOLOGI SASTRA

Assalamualaikum wr.wb selamat dini hari sobat heheh pada kesempatan kali ini ane mau membagikan tentang analisis novel melaui pendekatan sosiologi sastra oke tanpa basa basi lagi lansung aja simak dibawah ini .

Kondisi Sosial Budaya pada Novel Sebelas Patriot 


Pada novel ini kondisi sosial budaya terbagi menjadi tiga, yakni kondisi
(a).sosial pada zaman pemerintahan belanda,
(b). kondisi sosial ketika ikal tumbuh sejak kecil hingga dewasa di Belitong,
(c). kondisi sosial budaya ketika ikal merantau ke eropa.

a. Kondisi sosial budaya zaman pemerintahan belanda di Belitong

Pada zaman pemerintahan belanda di belitong diceritakan bahwa para penduduk belitong dipaksa untuk kerja rodi. “dalam putaran kerakusan nan dahsyat itu anak-anak lelaki melayu dibawah umur diseret ke parit-parit tambang untuk kerja rodi”( hal 6). Para penduduk diperas tenaganya hanya untuk memberi keuntungan kepada belanda. Harga diri rakyat belitong diinjak-injak oleh belanda. Masalah sepele yang dibuat oleh orang Indonesia selalu dibesar-besarkan. Keadaan sosial pada saat itu sangat memprihatinkan. Seluruh kekeyaan alam terutama timah yang ada di belitong dikeruk habis. “telah kutemukan dalam buku sejarah, bahwa timah berlimpah di pulau kami­­ belitong membuat belanda bernafsu mengeruk sebanyak-banyaknya” (hal.5).

Anak-anak kecil dipaksa meninggalkan rumah untuk dijadikan pekerja bagi belanda. Bahkan ayah ikal dan kedua saudaranya mengalami nasib pahit tersebut di era pemerintahan belanda. “ketiga anak itu bergabung dengan ratusan anak seusia mereka, bergelimang lumpur, membanting tulang sepanjang waktu (hal.6). Para penduduk juga tak tinggal diam. Meraka mencoba melawan tindasan belanda terhadap rakyat belitong. Tetapi akhirnya juga kalah. Perjalanan waktu yang terus berlalu, tertindas terus menerus oleh belanda rakyat menemukan taktik tersendiri untuk melawan belanda yaitu “para penyelam tradisi onal melawan dengan membocorkan kapal-kapal dagang belanda yang mendekati perairan belitong. Para pemburu meracuni sumur-sumur yang akan dilalui tentara belanda. Para imam membangun pasukan rahasia di langgar-langgar. Para kuli parit tambang melawan dengan sepak bola (hal.7). para kuli parit yang melawan belanda melalui sepak bola adalah ayah ikal sendiri dan kedua saudaranya.

Pada zaman pemerintahan belanda, ayah ikal dan kedua saudara kandungnya menjadi bintang sepak bola saat kelihainnya dalam bermain bola disanjung oleh masyarakat. Sampai-sampai Van Holden ingin menyaksikannya sendiri,. ( Van Holden sengaja datang ke lapangan sepak bola untuk menyaksikan anak-anak muda itu bermain (hal.17). Van Holden terpana melihat kepiawaian tiga bersaudara itu menggiring bola. sayap kiri ayah ikal, gelandang dan sayap kanan. Pada suatu ketika ketiga saudara tersebut dilarang bermain bola saat pertandingan melawan pemuda belanda. Tapi ketiga saudara itu tetap bersikeras dalam mengikuti pertandingan dengan modal nekat. ketiga saudara itu bermain dengan pemuda belanda dan memalukannya di mata orang banyak. Saat seperti itulah sebuah kemerdekaan muncul walaupun hanya di lapangan.

Akibar dari kenekatan ketiga pemuda itu, sebagai gantinya tentara belanda membuat ketiga pemain tersebut babak belur dan juga pelatihnya.

b. Kondisi sosial dan budaya ketika ikal tumbuh dari kecil hingga dewasa di Belitong.

Sepak bola telah mendarah daging pada diri ikal. Posisi sayap kiri telah ikal miliki. Dulu ayahnya posisi sama seperti ikal tapi dulu waktu menjadi Tim Parit. “PSSI untuk menggantikkan posisi ayah yang telah dirampas belanda. Aku harus menjadi pemain PSSI! Apapun yang terjadi”(hal. 38). Ikal bersikeras ingin menjadi pemain PSSI. Keinginannya yang kuat itu di dorong oleh motivasi tentang kehidupan ayahnya dulu, dan ingin meneruskan perjuangannya.

Kondisi budaya sosial pada saat itu, seorang ikal mati-matian ingin menjadi pemain sepak bola. dia menganggap bahwa sepak bola adalah agama keduanya. “sepak bola adalah agama kedua kami setelah Islam” (hal.37). betapa tingginya sepak bola di mata ikal. Pengaruh sosial budaya di masa lampau membuat ikal segila ini dengan bola. dia rela berjualan roti untuk mendapatkan sepasang sepatu bola. “sejak itu aku dan mahar menjujung kue lebih banyak dan berjualan keliling kampung lebih rajin demi membeli sepatu bola”(hal. 41), yang membuat ikal segila itu memengaruhi pandangannya bahwa sepak bola adalah agama kedua, yakni seorang ayah yang menjadi pejuang bola saat penjajahan Belanda.

Gemblengan dari pelatih Toharun membantu membentuk jati seorang sepak bola. terutama gemblengan yang diberikan pada ikal dan teman-temannya. Ketika mahar cengengesan dia kena semprot. “apa katamu!? Anak keenam!? Aku tak peduli kau anak berapa! Aku tak peduli ibumu ikut KB atau tidak! Itu urusan rumah tanggamu! Ini lapangan sepak bola! apa kau pikir ini Puskesmas!? Nomor urut!” (hal.40). keadaan sosial dalam pelatihan sepak bola sangat keras. Ikal diberi latihan push up dengan bertumpu tangan kiri. Pelatih menyuruhku push up dengan bertumpu sebelah tangan kiri (hal.42). tidak hany itu saja pelatih Toharun memerintahkanku untuk menggunakan bagian kiri pada tubuhku agar kemampuan pada posisi sayap kiri semakin matang.

Seleksi PSSI telah diikuti ikal, ikal terpompa semangatnya agar bisa masuk kedalam tubuh PSSI. Seleksi dari tahun ketahun telah dilaluinya, akan tetapi ikal gagal dan harus mengakui kemampuan saingannya yang lebih baik. Kepribadian ikal dalam bermain bola terbentuk dari didikan keras oleh pelatih toharun. Berbagai pertandingan telah dilalui bersama pelatih Toharun.

c. Kondisi sosial budaya ketika di benua eropa

Kondisi sosial di benua eropa sangat berbeda dengan kondisi budaya di Belitong. Ikal melakukan sebuah perjalanan jauh dari perancis menjelajahi eropa, menjadi seorang backpacker. Ikal ingin menuju ke Madrid. Dimana kota yang menghasilkan pemain sepak bola yang digandrungi oleh ayahnya. Ikal dengan arai menuju ke Spanyol tapi mereka berdua berbeda tujuan. Setelah hampir sebulan berkelana, kami sampai di spanyol dan harus berpisah arah untuk sementara. Arai meminati Alhambra dan aku harus kemadrid.(hal.70). tujuan ikal kemadrid yaitu untuk membelikan kaos bertanda tangan luis figo yang akan dihadiahkan untuk ayahnya. Ikal mendapat kaos bertanda tangan itu dengan susah payah, dia harus bekerja seperti kacung menjadi pembantu untuk mencari uang 250 euro. Akhirnya ikal bisa membeli kaos bertanda Tangan Lusi Figo, berkat bantuan andriana. Menyembunyikan kaos yang di pajang untuk ikal. Karena Adriana yakin ikal akan kembali. Dari awal seperti itu persahabatan ikal dengan penjaga toko bernama Adriana tumbuh menjadi seorang yang kenal akrab. Mereka saling mencintaim tapi dalam sepak bola. tidak selebih perasaan dari hati.

Ikal diajak Adriana menonton secara live Real Madrid vs Valencia Ikal merasa senang karena dapat melihat langsung serpak terjang Luis Figo. Pemaian favorit ayahnya. Sosial budaya di daerah eropa sangat memengaruhi pola kehidupan ikal. Kehidupan ikal begitu keras menjadi backpacker, yang lebih memengaruhi lagi dalam hubungan sosial budaya dalam pada tokoh yang bernama ikal yakni, sejarah ayahnya di masa pemerintahan belanda dan kehidupannya saat dikampung belitong dididik oleh pelatih tohari yang keras dan displin, membuatnya menjadi seorang pekerja keras.

Terimakasih saya ucapkan kepada para pengunjung

Sumber http://edukasi.kompasiana.com

No comments:

Post a Comment